Mulsa Organik

Mulsa Organik

Mulsa adalah suatu material pelindung tanah yang digunakan dalam kegiatan budidaya untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Mulsa terbagi menjadi dua berdasarkan materialnya yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik.

Mulsa dengan bahan organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa jenis ini diberikan setelah tanaman atau bibit ditanam. Keuntungan mulsa ini adalah lebih ekonomis, mudah diperoleh, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik pada tanah.

Fungsi Mulsa Organik

-Menghemat air
-Mencegah erosi
-Menghambat pertumbuhan gulma
-Menjaga keseimbangan suhu tanah dan lapisan udara di dekat tanah sehingga tanah tidak menjadi terlalu panas
-Menjaga sari-sari makanan dalam tanah terhadap pencucian dan penghanyutan oleh air hujan.
-Menjaga kondisi tanah tetap remah dan tidak cepat padat
-Mencegah penyakit tanaman yang timbul akibat percikan tanah oleh air hujan
-Menjadi sumber bunga tanah atau humus
-Meningkatkan mutu hasil pada tanaman
-Memperlancar kegiatan jasad renik tanah seperti cacing tanah yang sangat membantu petani dalam penyuburan tanah.

Macam-Macam Mulsa Organik

-Mulsa sisa tanaman.
Mulsa ini terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi, batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting tanaman. Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan tanah setebal 2-5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna.
Mulsa sisa tanaman dapat memperbaiki kesuburan, struktur, dan cadangan air tanah. Mulsa juga menghalangi pertumbuhan gulma, dan menyangga (buffer) suhu tanah agar tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
Mulsa sisa tanaman akan melapuk dan membusuk. Karena itu perlu menambahkan mulsa setiap tahun atau musim, tergantung kecepatan pembusukan. Sisa tanaman dari rumput-rumputan, seperti jerami padi, lebih lama melapuk dibandingkan bahan organik dari tanaman leguminose.
-Mulsa serpihan kayu
Serpihan kayu yang diperoleh dari pemotongan pohon besar yang digunakan sebagai pekerjaan sampingan yang dijadikan sebagai mulsa. Pohon cabang dan batang besar agak kasar setelah chipping dan cenderung digunakan sebagai mulsa setidaknya tiga inci tebal, Serpihan kayu yang paling sering digunakan di bawah pohon dan semak belukar. Ketika digunakan di sekitar tanaman berasal lunak, zona unmulched yang tersisa di sekitar tanaman untuk mencegah batang busuk batang atau penyakit lain yang mungkin muncul. sering digunakan untuk jalur mulsa, karena mereka dapat segera diproduksi dengan sedikit tambahan biaya di luar biaya pembuangan normal pemeliharaan pohon.
-Mulsa potongan rumput
Dari memotong rumput kadang-kadang dikumpulkan dan digunakan di tempat lain sebagai mulsa. Potongan rumput yang padat dan cenderung tikar ke bawah, sehingga dicampur dengan daun pohon atau kompos kasar untuk memberikan aerasi dan untuk memfasilitasi dekomposisi mereka tanpa pembusukan bau. Potongan rumput sering dikeringkan secara menyeluruh sebelum aplikasi, yang menengahi terhadap dekomposisi yang cepat dan panas yang berlebihan. Rumput segar yang membusuk akan mengikat panas yang ad pada dalam tanah, Potongan rumput hijau relatif tinggi kadar nitrat, dan ketika digunakan sebagai mulsa, banyak nitrat dikembalikan ke tanah, tetapi penghapusan rutin potongan rumput dari hasil rumput defisiensi nitrogen untuk rumput.

Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman. Pemasangannya dilakukan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik adalah lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah.